Sejarah & Risalah Desa Mandirancan
Mengenal Asal-Usul, Legenda, dan Para Buyut Keramat Desa Mandirancan
Etimologi & Arti Nama Mandirancan
Menurut cerita para tetua pada zaman dahulu kala, kata Mandirancan terdiri dari 2 (dua) suku kata, yaitu kata MANDI dan kata RANCANA.
"Secara harfiah, arti dari Mandirancan adalah segala sesuatu hal yang direncanakan untuk kebaikan pasti rencana tersebut akan terlaksana karena Mandi (Ampuh)."
Buyut yang Dikeramatkan di Desa Mandirancan
Di Desa Mandirancan terdapat beberapa leluhur/Buyut yang sangat dihormati dan dikeramatkan oleh masyarakat:
Buyut Sirnabaya
Terletak di Astana Kalar / Komplek Tanjung Kamuning (Dusun Pahing sebelah Utara).
Nama Sirnabaya tidak hanya menjadi sebutan historis Desa Mandirancan, tetapi juga diabadikan dan digunakan hingga kini dalam berbagai bidang kegiatan organisasi, kesenian, hingga kelembagaan desa:
- Bidang Olahraga: Tim Sepak Bola Desa memakai nama Sirnabaya.
- Bidang Kesenian: Grup Kesenian Genjring memakai nama Sirnabaya.
- Kelembagaan Desa: Kelompok Tani masyarakat juga mengabadikan nama Sirnabaya.
Buyut Lurah
Terletak di Astana Kidul (Astana Buyut Lurah) di Dusun Pahing.
Konon kabarnya Buyut Lurah bukan penduduk asli (pribumi) Mandirancan. Beliau adalah Abdi (pesuruh/bujang) dari Buyut Tunggul Kadu yang dituakan oleh Buyut-buyut lainnya di Desa Mandirancan.
Pada masa hidupnya, Buyut Lurah sering diutus ke Kerajaan Mataram. Setiap kali diutus, beliau selalu kembali ke Mandirancan dengan selamat, sementara utusan lainnya gugur. Oleh karena itu, Buyut Tunggul Kadu berwasiat bahwa jika Buyut Lurah wafat, beliau harus dirawat dan dikeramatkan atas jasa-jasanya yang sangat besar bagi Mandirancan.
Buyut Arga Lunga
Buyut Arga Lunga adalah orang pertama yang menjejakkan kakinya di bumi Mandirancan. Beliau merupakan Sesepuh dari seluruh Buyut yang ada di Desa Mandirancan. Menurut sejarah lokal, keberadaan makam Buyut Arga Lunga hingga saat ini tidak diketahui pasti tempatnya.